ABSTRAK
Hartini
Setyaningrum, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman. Judul penelitian Persepsi
Orang Tua Tentang Pelayanan Penitipan Anak Rindana Samarinda. Dalam proses
penulisan dibimbing Oleh Bapak Drs, Riyadi M.Si. sebagai pembimbing I dan Ibu
Dra. Sudillah, M.Pd sebagai pembimbing II.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang
persepsi orang tua terhadap pelayanan penitipan anak.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran secara
sistematis tentang persepsi orang tua terhadap tempat penitipan anak Rindana
samarinda. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi,
wawancara dan dokumentasi, analisis data menggunakan langkah-langkah reduksi
data, display data, kesimpulan dan verifikasi.
Berdasarkan uraian diatas
maka kesimpulannya adalah meningkatkan Persepsi orang tua terhadap Tempat
Penitipan Anak Rindana Samrinda, bukan hanya
berdasarkan dari iuran yang di bayar, akan tetapi dilihat juga dari segi
keamanan anak dari kecelakaan dan kemungkinan terlantar saat di tinggalkan
orang tuanya.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pembangunan sangatlah erat hubunganya
denan masyarakat indonesia sebagai bangsa yang membangun. Dalam proses
pembangunan, kesejahteraan sangat perlu diperhatikan dalam pembangunan yang
diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat indonesia yang sangat
dibutuhkan, guna menunjang pembangunan secara menyeluruh.
Kesejahteraan yang diinginkan adalah
kesejahteraan yang meliputi kesejahteraan seluruh masyarakat indonesia seperti
yang termuat di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “...
Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial...”. dengan demikian pelaksanaan kesejahteraan sosial
identik dengan perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan untuk memberikan
pelayanan kepada kehidupan keluarga dan kesehatan anak serta penyesuaian sosial
yang semuanya ini sudah tentu memerlukan partisipasi dari seluruh masyarakat.
Begitu pula dengan pembangunan nasional yang menuntut partisipasi aktif dari
seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan status dan jenis kelamin yang
mendorong kaum wanita untuk ikut berkarya di dalam meningkatkan produktivitas
kerja menuju pembangunan bangsa.
Seperti diketahui bahwa dewasa ini banyak
ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah dan tidak sedikit diantara mereka
yang memiliki anak usia balita, yang tentu saja menimbulakan soal pengsuhan
anak balita ini selama si ibu meninggalkan rumah. Seorang ibu yang bekerja
diluar rumah tentu mengharapkan sang anak memperoleh pengasuh yang terbaik
untuk mengembangkan jiwa dan raga si anak., hal ini penting sebab si anak akan
berpisah dan sang ibu paling tidak selama 7 jam setiapa harinya.
Khususnya di daerah Kotamadya Samarinda
tercatat kurang lebih 100 orang ibu pegawai negeri yang mempunyai anak usia
balita (brosus YKAI 2009:3), tentu saja hal ini menimbulkan permasalahan dalam
mengasuh si anak selama ditinggal oleh si ibu pola pengasuhan yang dikenal
umumnya mempercayakan pengasuhan kepada pembantu atau baby sitter, yaitu mulai dari makan,minum, gant pakaian, sampai ke
hal bimbingan yang bersifat edukatif harus bergantung dengan sang pengganti ibu
dan peran sang pengganti ibu harus memperhatikan perkenmbngan anak, apakah anak
perkembangannya positif, negatif atau membahayakan bagi pertumbuhan anak.
Suasana pembangunan yang lebih terfokus
di bidang ekonomi ditambah dengan era globalisasi dewasa ini telah membawa
pengaruh yang tidak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas.
Tawaran untuk menikmati gaya hidup global telah memacu semua orang untuk
bekerja tak kenal waktu. Kondisi demikian ini telah mengubah tatanan kehidupan
keluarga termasuk memunculkan penampilan ibu yang berada dalam peran dan
fungsinya selaku penyelenggara rumah tangga dan pendidik anak. Pemunculan ibu
dalam kegiatan luar rumah (bekerja, melakukan kegiatan sosial-budaya) yang
mewarnai keghidupan keluarga di perkotaan, menimbulkan pertanyaan tentang hasil
yang bisa diperoleh dari pendidikan anak. Pernyataan ini menjadi terasa lebih
bermakna karena ayah tak juga menjadi surut dari kegiatannya di luar rumah,
behkan cenderung meningkat seiring dengan tuntutan kehidupan, padahal kehadiran
keduanya sangat diperlukan anak, tak peduli berapapun umumnya.
Kaitannya dengan itu, siapa yang layak
ditunjuk dan diserahi tangggung jawab sebagai ‘keluarga pengganti’ (mengandung
makna bukan mengambil alih atau menghilangkan tanggung jawab dan fungsi
keluarga seutuhnya, melainkan hanya untuk mengganti sementara waktu selama
orang tua berhalangan dalam memberikan pendidikan sehingga anak terhindar dari
stagnasi proses tumbuh kembang), tampaknya merupakan fenomena yang akan
mewarnai wajah keluarga di perkotaan di masa depan. Fenomena ini tentunya perlu
disikapi sungguh-sungguh sejak sekarang, karena tidak mudah memperoleh
‘keluarga pengganti’ dalam keluarga yang bisa membantu dan berperan turun
temurun, dari generasi ke generasi,
seperti yang pernah dialami pada era sebelumnya.
Dalam perspektif tersebut, pemahaman
mengenai berbagai kebutuhan perkembangan anak serta pentingnya pemenuhan
kebutuhan dasar dalam meningkatkan kualitas tumbuh kembang si anak, termasuk
pemahaman mengenai lembaga yang dapat dijadikan alternatif pemenuhan kebutuhan
dasar perkembangan anak, menjadi salah satu cara untuk mengerti
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kecenderungan berkurangnya funsi
keluarga dalam melaksanakan pengasuhan dan pendidikan, yang pada gilirannya
bisa mengupatakan pemecahannya dalam memilih ‘keluarga pengganti’ yang dapat
meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak.
Menyerahkan pengasuhan anak pada pembantu
rumah tangga memerlukan pertimbangan , dimana usia balita merupakan
perkembangan anak sangat rawan, karena di usia anak harus mendapatkan
pendidikan, pengasuhan dan pembinaan yang cukup. Selain itu kesehatan dan
pemenuhan gizi pada makanan yang diberikan sangat perlu diperhatikan, agar
pertumbuhan mental dan fisik anak seimbang, dimana anak ini kelak akan menjadi
generasi penerus untuk membangun bangsa dan negara. Oleh karena itu orang tua
tidak bisa mempercayakan pengasuhan anaknya pada orang yang belum diketahui
kualifikasinya di dalam pengasuhan anaknya, mengingat pentingnya pendidikan dan
pengasuhan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya.
Seiring dengan perkembangan jaman dimana
kini sudah mulai dikenal suatu lembaga penitipan anak yaitu tempat Penitipan
Anak Rindana, yang berada di Kotamadya Samarinda, yang memberikan pelayanan
kepada ibu-ibu yang memiliki anak di usia balita yang ibunya bekerja di luar
rumah. Sebagai suatu lembaga kesejahteraan sosial, tempat penitipan anak-anak
sangat memperhatikan tingkat pelayanan. Untuk menunjang pelayanan yang
diberikan di tempat ini juga disediakan berbagai fasilitas seperti ruang
pendidikan, ruang kesehatan, ruang tidur, tempat tidur, alat-alat bermain, dan
fasilitas penunjang pemberian pelayanan yang baik di samping pengasuhan,
pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak-anak.
Pelayanan yang diberikan tidak mengurangi
minat pengguna jasa untuk menitipkan putra putrinya di tempat Penitipan Anak
Rindana Samarinda. Sehingga penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana
sesungguhnya pelayanan tempat Penitipan Anak Rindana.
B. Rumusan
Masalah
Memperhatikan tentang uraian dari latar
belakang masalah dalam penelitian maka rmusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut; Bagaimana persepsi orang tua tentang pelayanan
Penitipan Anak Rindana Samarinda ?
C. Tujuan
Penelitian
Setiap kegiatan yang dilakukan harus
mempunyai tujuan yang jelas, dengan berpatokan pada tujuan yang telah
ditetapkan tersebut, maka kegiatan yang dilaksanakan menjadi terarah dan
mempunyai pedoman untuk mencapai tujuan tersebut.
Adapun yang menjadi tujuan dalam
penellitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi orang tuatentang
pelayanan Penitipan Anak Rindana.
D. Kegunaan
Penelitian
Dari hasil penelitian
ini diharapkan mempunyai kegunan antara lain.
1.
Bagi
instasi terkait khususnya tampat Penitipan Anak Rindana Samarinda, diharapkan
hasil penelitian ini juga dapat dijadkan masukan yang positif dalam rangka
meningkatkan pelayanan penitipan anak-anak.
2.
Bagu
orang tua, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi semua mana
pelayanan yang telah diberikan oleh Tempat Penitipan Anak Rindana Samarinda
3.
Bagi
masyarakat, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi
tentang pelayanan yang di berikan di Tempat Penitipan Anak Rindana Samarinda.
BAB
3
METODOLOGI PENELITIAN
A. Definisi
Operasional
Setelah variabel ini didefinisikan, maka
variabel tersebut perlu di definisikan secara operasional.
Effendi (1975 : 4), menyatakan bahwa :
“definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana
caranya mengukur suatu variabel”.
Suryabrata (1995:76), mengemukakan
pendapat definisi operasional yaitu : definisi operasional adalah definisi yang
berdasarkan atas sifat-sifat yang dapat diamati atau observasi. Konsep dapat
diamati atau diobservasi ini penting karena hal yang dapat diamati itu membuka kemungkinan bagi orang
lain selain peneliti terbuka untuk diuji kembali oleh orang lain.
Dalam penelitian ini
yang akan diteliti adalah Persepsi Orang Tua.
Definisi Operasional dalam penelitian
Pelayanan Pelayanan Penitipan Anak dengan indikator sebagai berikut :
1. Pelayanan Fisik
a. Kegiatan menidurkan anak
b. Mengganti pakaian
c. Memberi makanan
d. Menemani bermain
d. Menjaga
e. Perawatan
2. Pelayanan Edukatif
a. Pendidikan kepribadian
b. Pengenalan tentang
nama, bentk, dan warna berbeda
c. Pengenalan lingkungan
d. Pola asuh
3. Pelayanan bidang kesehatan
a. Pelayanan medis yaitu
pemeriksaan kesehatan
b. pengenalan dalam
pengaturan menu dan pemberian makanan
c. kebersihan lingkungan
B. Waktu
dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang
lebih 3 bulan. Adapun tempat penyelenggaraan yaitu di Tempat Penitipan Anak
Rindana Kotamadya di jalan S. Parman Samarinda.
C. Data
dan Sumber Data
Suatu penelitian perlu di tetapkan
populasi yang akan ditelitinya, karena besar kecilnya populasi dapat
mempengaruhi hasil penelitian. Menurut Moleong (2004 : 224) “sampel pada
penelitian kualitatif ini adalah dengan menggunakan purposive sampling.”
Didalam penelitian kualitatif tidak ada sampel acak, tetapi sampel bertujuan.
Berdasarkan pendapat tersebut maka
penulis akan mengambil sampel sebagian sumber data dengan teknik purpose
sampling yakni pengambilan sampel berdasarkan tujuan yaitu untuk mengetahui
Persepsi Orang Tua Tentang Pelayanan Penitipan Aank Rindana Samarinda.
D. Teknik
Pengumpulan Data
S. Nasution (1988 : 54 ), menyatakan
“Tentang pengumpulan data menyebutkan bahwa dalam penelitian naturalistik data
dikumpulkan terutama oleh peneliti sendiri secara pribadi dengan memasuki
lapangan “.
Melihat pendapat dia atas, maka data dalam
penelitian ini diproleh dari orang tua yang menitipkan anaknya pada tempat
Penitipan Anak Rindana Samarinda.
Adapun teknik pengumpulan data yang
dilaksanakan adalah :
1.
Wawancara
(interview)
Wawancara adalah
percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak,
yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan
jawaban atas pertanyaan itu.
2.
Dokumentasi
Guba dan Lincoln
(1981:228), dokumentasi adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari
record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.
Kegunaan dokumentasi
sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data
dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan. Guba dan Lincoln
(1981:235)
Teknik ini yang
digunakan untuk memperoleh data tentang tempat penitipan anak-anak Rindana dan
tentang pelayanan yang di berikan.
3.
Observasi
Observasi merupakan
salah satu metode khusus ntuk mendapatkan fakta. Apa yang dimaksud dengan
observasi dapat dilihat pada apa yang dikemukakan oleh Pauline V. Young yang
dikutip Bimo Walgito (2004:63), sebagai berikut :
Observasi suatu penelitian yang
dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat
indera (terutama mata) atas kejadian yang langsung dapat ditangkap pada waktu
kejadian itu terjadi.
E. Teknik
Analisis Data
Adapun cara untuk menganalisis data dalam
penelitian ini. Maka penulis mendasarkan pada pendapat S. Nasution (1988:126),
menyatakan bahwa “Analisis data adalah proses menyusun data agar dapat
ditafsirkan”.
Dengan demikian analisis data merupakan
proses menggolongkan atau mengelompokkan datan dalam pola tertentu, memberikan
makna kepada data yang kemudian disusun untuk memudahkan mencari hubungan
antara konsep.
Ada tiga tahapan dalam analisis data,
yaitu:
1. Reduksi
Data
Reduksi dapat diartikan sebagai proses pemilihan,
pemusatan perhatian pada penyederhanaan,
pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul di catatan-catatan
tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang
menajamkan,menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpilan-kesimpulan
finalnya dapat di tarik dan diverifikasi.
1. Penyajian
Data
Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis adalah
penyajian data. Penyajian dikatakan sebagai sekumpulan informasi yang tersusun
yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Penyajian-penyajian data dapat dilakukan dengan berbagai jenis
matriks, grafik, jaringan,dan bagan. Semua di rancang guna membangun informasi
yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, dengan demikian
seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menetukan
apakah menarik kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis
yang menurut saran dikiaskan oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin
berguna.
3. Menarik
Kesimpulan/Verifikasi
Data yang diperoleh dilapangan dan telah disajikan dalam
berbagai bentuk penyajian perlu disimpulkan/diverifikasi. Penarikan kesimpulan
ini diperlukan sebagai analisis data yang sangat penting guna memperoleh
gambaran yang jelas tentang segala sesuatu yang ada dalam penelitian.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
A.
Keadaan Lokasi Penelitian
1.
Sejarah
Berdirinya Tempat Penitipan Anak (TPA) “Rindana” Samarinda
Sebagai salah satu lembaga yang mempunyai
tujuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan anak di indonesia, maka
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia cabang Kalimantan Timur yang didirikan
dengan surat keputusan No.006/YKAI/C/84 dan disempurnakan oleh
No.007/YKAI/PC/92, telah berusaha pula untuk menciptakan berbagai program yang
mampu membantu membina dan mengembangkan kondisi kesejahteraan anak balita
secara fisik an sosialnya.
Tempat penitipan anak sebagai salah satu
program atau kebijaksanaan pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah dibawah
departemen sosial.
2.
Tujuan
dan Fungsi Tempat Penitipan Anak (TPA) “Rindana” Samarinda
Tujuan tempat penitipan anak rindana
samarinda adalah sebagai berikut:
a.
Membantu
ibu-ibu untuk memperoleh ketenangan dan prestasi kerja yang optimal.
b.
Menghindari
anak dari kemungkinan terlantar pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani,
serta sosialnya secara wajar.
c.
Menumbuhkan,
meningkatkan dan menetapkan pertisipasi masyarakat dimana penerima pelayanan
berada.
Fungsi tempat penitipan anak (TPA)
Rindana Samarinda adalah :
1)
Sebagai
pusat pelayanan kesejahteraan anak yang mempunyai fungsi sebagai berikut :
a)
Pengembangan
b)
Perlindungan
c)
Pendidikan
2)
Sebagai
pusat informasi dan konsultasi anak dalam jangka panjang TPA Rindana berfungsi
sebagai berikut :
a)
Pameran
photo
b)
Pembuatan
brosur tentang SPA Rindana Samarinda dll
3.
Struktur
Organisasi Tempat Penitipan Anak Rindana Samarinda
Sesuai dengan keputusan ketua yayasan
kesejahteraan anak indonesia No.12/02/YKAI/1989, tentang struktur organisasi
tempat penitipan anak rindana samarinda.
4.
Pegawai
atau pengasuh di temapat penitipan anak Rindana Samarinda tahun 2013 adalah
seperti tabel berikut ini :
Tabel 5. Susunan
pegawai dan pengasuh di Tempat Penitipan Anak Rindana
|
NO
|
NAMA
|
PENDIDIKAN
|
JABATAN
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
|
Ny. H.A.A
Ny. H.SA
Dr. NS
Rh
Dra. S
Iby
A
AF
RR
TS
H
S
F
H
N
W
AJ
Ny. L
PRJ
M
|
SGKP
SGTK
Sarjana
Amd
Sarjana
SMA
SMA
SMPS
SPG
SMPS
SMKK
SMKK
SPG
SMA
SMA
SPG
MAN
SMA
SMP
SD
|
Pimpinan TPA
Wakil pimpinan TPA
Tempat
Dokter Anak
Perawat
Pyskolog
Tata Usaha
Tata Usaha
Pengasuh
Guru
Pengasuh
Pengasuh
Pengasuh
Guru
Pengasuh
Pengasuh
Pengasuh
Pengasuh
Tukang Masak
Tukan Cuci & Kebun
|
Sumber data :
Tempat Penitipan Anak Rindana
5.
Anak
anak yang ada di tempat penitipan anak rindana samarinda
Anak anak yang ada di tempat penitipan
anak rindana terlihat dalam tabel sebagai berikut ini :
Tabel 6 : Status
dan jumlah anak asuh di TPA Rindana samarinda
|
NO
|
USIA
|
LAKI-LAKI
|
PEREMPUAN
|
JUMLAH
|
|
1.
2.
3.
4.
|
1 Tahun – 2 Tahun
2 Tahun – 3 Tahun
3 Tahun – 4 Tahun
4 Tahun – 5 Tahun
|
5
9
6
5
|
2
10
7
6
|
7
19
13
1
|
|
|
JUMLAH
|
25
|
25
|
50
|
Sumber data :
Tempat Penitipan Anak Rindana Samarinda
6.
Sarana
dan Prasarana Tempat Penitipan Anak Rindana
Tabel 7 : Sarana
dan Prasarana di tempat penitipan rindana samarinda
|
NO
|
NAMA RUANGAN
|
JENIS BARANG
|
JUMLAH
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
|
Ruang Bayi
Ruang Kesehatan
Ruang Monitor
Ruang Anak
Ruang Pendidikan
Kantor
Ruang Tamu
Ruang Dapur
Ruang Makan
|
-
Meja Bayi
-
Almari Persalinan
-
Almari Pakaian
-
Meja Makan
-
Box Bayi
-
Tempat Duduk
-
Ayunan
-
Meja Kerja
-
Almari Obat
-
Tempat Periksa
-
Tempat Waskom
-
Meja Kerja
-
Meja Panjang
-
Almari Terbuka
-
Filing Ashahi
-
Mesin Ketik
-
Telepon
-
Komputer
-
Dipan
-
Box
-
TV + Video
-
Tipe Recorder
-
Almari Pakaian
-
Laci Buku
-
Meja + Kursi
-
Almari Dinding
-
Laci Peralatan
-
Meja Guru
-
Meja + Kursi Tamu
-
Meja Kerja
-
Almari
-
Meja Tamu
-
Kursi Tamu
-
Meja Besar
-
Almari Dinding
-
Rak Piring
-
Mesin Cuci
-
Meja Makan
-
Kursi Makan
|
3 buah
1 buah
1 set
1 buah
4 buah
1 buah
9 buah
2 pasang
2 buah
1 buah
1 pasang
3 pasang
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
35 buah
4 buah
1 pasang
1 buah
1 set
1 set
40 pasang
2 buah
1 set
1 pasang
1 set
3 pasang
1 buah
2 set
2 set
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
5 set
5 set
|
B. Persepsi orang tua tentang
pelayanan fisik
Penulis mewawancarai keluarga
yang menitipkan anaknya di tempat penitipan anak Rindana Samarinda, keluarga
tersebut adalah keluarga Bapak Anggi penulis menemui istri beliau adalah Ibu
Eni Kusmariani. Ia mengatakan ia menitipkan anak di tempat penitipan anak
rindana sebanyak 1 anak dikelas 3 tahun keatas.
C. Persepsi Orang Tua Tentang
Pelayanan Edukatif
Untuk pelayanan edukatif
penulis mewawancarai orang tua yang memiliki anak yang berusia 2 tahun keatas,
karena untuk anak usia bayi belum dilaksanakan. Untuk pelayanan pendidikan
edukatif pihak penitipan anak memberikan keterangan bahwa untuk pendidikan
dasar anak diajarkan untuk memasuki pendidikan taman kanak-kanak.
D. Persepsi Orang Tua Tentang
Pelayanan Kesehatan
Jadwal pemeriksaan kesehatan
setiap seminggu sekali yaitu setiap jum’at dan setiap bulan orang tua akan
menerima kartu yang berisi laporan kesehatan anak, misalnya berat badan anak,
tinggi badan anak. Jika anak yang dititipkan sakit maka pihak penitipan
menyediakan obat generik dan dokter siap dipanggil setiap di perlukan.
BAB 5
PEMBAHASAN
Persepsi merupakan suatu
pandangan bagi setiap individu terhadap objek tertentu, pada stimulasi yang
berkaitan dengan alat indera seseorang bagi pengamatannya sehari-hari. Dari
sinilah dapat diketahui setiap individu seseorang yang memiliki pandangan
berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Khususnya bagi orang tua yang
menitipkan anaknya, di Tempat Penitipan Anak yang dalam penilaiannya bahwa
pelayanan di TPA baik menurut pandangan si A akan tetapi menurut pandangan yang
lain mungkin kurang baik atau bahkan tidak baik.
Dari hasil penelitian
sebelumnya untuk pelayanan terdapat dua pelayanan yang belum dilaksanakan yaitu
kebersihan pakaian dan alat-alat bermain. Hal ini menurut mereka pakaian yang
tidak menggunakan label nama anak sehingga pakaian anak dapat tertukar dengan
yang lainnya, sebagai orang tua merasa khawatir jika ada di antara anak
menderita penyakit kulit yang dapat menular kepada anak yang lainnya. Sehinnga
orang tua lebih yakin jika anak menggunakan pakaian dari rumah.
Mengenai alat bermain dimana
kurang sebanding antara jumlah anak dengan jumlah alat bermain anak yang
disiapkan oleh Tempat Penitipan Anak.
Tempat Penitipan Anak merupakan
rumah kedua bagi anak asuh. Dimana mereka banyak menghabiskan waktu pada siang
hari di tempat dan melakukan kegiatan sehari-harinya, dalam rangka melatih
kemampuan anak. Dengan demikian dapat diketahui bahwa, didalam diri anak-anak
sudah tertanam kelekatan dan kesediaan untuk melakukan suatu perbuatan yang
berasal dari luar luar dirinya, yang ini bersumber dari jalinan yang terjadi
antara anak asuh dan pengasuh.
Mendidik anak merupakan masalah
yang sangat kompleks dan serius karena memerlukan perhatian yang khusus
diantaranya, kesabaran, ketekunan dan kebijaksanaan yang besar. Karena anak
balita tergantung pada pertolongan orang tua atau orang lain, dengan kata lain
anak tersebut masih belum dewasa. Oleh karena itu peranan penitipan anak
sebagai rumah pengganti dan pengasuh sebagai orang tua pengganti, yang
merupakan tempat anak mendapatkan bimbingan yang pertama dan utama yang
terpikul dalam tanggung jawab yang tidak ringan mengingat tugas mereka sebagai
orang tua pengganti dalam mendidik anak yang di titipkannya. Sehingga bentuk
pendidikan yang akan diberikan kepada anak harus benar-benar sesuai dengan
kebutuhan anak pada ingkatan usia tertentu.
Berdasarkan dari hasil
penelitan tentang pelayanan kesehatan, kurangnya perhatian pihak penitipan anak
terhadap anak yang sakit, hal ini disebabkan karena pihak penitipan anak hanya
mampu menyediakan obat generik serta pihak penitipan anak akan segera
memulangkan anak yang tiba-tiba sakit saat dititipkan karena pihak penitipan
tidak berani menanggung resiko jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Keterbatasan penyediaan obat ini dikarenakan berkaitan dengan dana yang
dimiliki pihak tempat yang sangat minim. Sebagai realisasi dari pelayanan
kesehatan tempat penitipan anak di evaluasi dan di kontrol terus menerus oleh
dokter atau petugas kesehatan yang lain.
Pelayanan dalam pengaturan menu
turut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik maupun
kecerdasannya adalah pemberian atau pengaturan menu makanan yang teratur dan
variasi dalam pemberian makanan. Disesuaikan dengan keperluan tubuh anak yaitu
makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna.
Terhadap kebersihan, pihak
penitipan memiliki kepedulian dengan lingkungan penitipan yang aman dan nyaman.
Hal tersebut menunjukkan betapa perhatian pihak penitipan pada kesehatan
anak-anak, agar perkembangan anak tidak terganggudan anak betah berada di
tempat penitipan pada saat ditinggal oleh orang tuanya.
Penitipan anak merupakan tempat
mengasuh anak dan memberikan pendidikan anak usia balita sesuai dengan perkembangan
jiwanya. Bertolak dari pernyataan tersebut Tempat Penitipan Anak Rindana
Samarinda, sebagai salat satu tempat yang memberikan pelayanan pendidikan dan
bimbingan serta asuhan kepada anak sesuai dengan pertumbuhan baik secara fisik
maupun jiwanya sehingga kesejahteraan anak balita secara berkesinambungan
mendapat perhatian yang lebih baik, disamping untuk membantu para orang tua
untuk memperoleh ketenangan dan prestasi kerja yang optimal dan menghindari
anak-anak kemungkinan terlantar pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani
serta sosialnya secara wajar selama orang tua anak asuh bekerja.
BAB 6
PENUTUP
A. Kesimpulan
setelah penulisa menguraikan persepsi orang tua tentang
pelayanan Temoat Penitipan Anak Rindana Samarinda, sampailah penulis pada
kesimpulan sebagai berikut :
1. Persepsi orang tua terhadap Tempat Penitipan Anak Rindana
Samrinda, bukan hanya berdasarkan dari
iuran yang di bayar, akan tetapi dilihat juga dari segi keamanan anak dari
kecelakaan dan kemungkinan terlantar saat di tinggalkan orang tuanya.
2. Informasi dan komunikasi yang baik antara orang tua dan
pihak penitipan anak sangat berpengaruh dalam usaha pengawasan dan perkembangan
kesehatan dan psykologi anak, serta pemecahan masalah yang berhubungan dengan
anak asuh yang ada di TPA Rindana Samarinda.
3. Persepsi orang tua terhadap pelayanan fisik tergolong
dengan baik, yang dilaksanakan dari 15 pelayanan hingga ada 2 pelayanan yang
belum dilaksanakan
B. Saran
Dengan tujuan “Tempat” sebagai keluarga pengganti yang
berarti pula Ttempat” berfungsi sebagai pendidik utama bagi anak asuh, terpikul
tanggung jawab untuk menghindarkan anak dari kemungkinan terlantar pertumbuhan
dan perkembangan jasmani, rohani serta sosialnya secara wajar, maka “tempat”
diharapkan :
1. Melakukan cara pengasuhan yang dianggap tepat pada saat
ini, yaitu cara pengasuhan yang memungkinkan intensifnya perhatian, bimbingan
dan pengawasan terhadap anak asuh yang di titipkan setiap harinya.
2. Pegawai atau pengasuh sebagai keluarga asuh hendaknya
ditingkatkan kemampuannya. Begitu pula tenaga profesional hendaknya di penuhi,
minimal dalam jumlah yang seimbang dengan kebutuhan anak dalam “Tempat” sesuai
dengan cara pengasuhan yang berlaku.
3. Sarana dan prasarana serta dana untuk pelayanan anak asuh
hendaknya dgunakan secara maksimal mungkin untuk meningkatkan pelayanan
mengingat semakin banyaknya peminat pengguna jasa penitipan anak
DAFTAR PUSTAKA
Fadhil, Nurdin. 1990. Pengantar Studi
Kesejahteraan Sosial. Bandung : Penerbit Angkasa.
Kartini, Kartono. 1990. Pengantar
Metodologi Riset Sosial. Bandung : Penerbit Mandar Maju.
Kartini, Kartono. 1990. Psikologi
Umum. Bandung : Penerbit Mandar Maju.
Mar’at. 1981. Sikap Manusia Perubahan
Serta Pengukuran. Bandung : Fakultas Psikologi Universtas Padjadjaran
Mardalis. 1995. Metode Penelitian
Pendekatan Proposal. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara
Muhammad Husaini dan Muhammad Noor. 1978. Himpunan Istilah Psykologi Untuk SLTA dan Umum. Penerbit Mutiara Jakarta.
Siahaan H.M. 1983. Peranan Ibu Bapak
Mendidik Anak. Bandung : Penerbit Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar